Strategi Preemtif Satgas Kamseltibcarlantas Polda Sulsel Jadi Pelajaran Berharga dari Operasi Lilin Pallawa 2025
Oleh: Redaksi LantasInfo
Keberhasilan Satgas Kamseltibcarlantas Polda Sulawesi Selatan dalam mengamankan Operasi Lilin Pallawa 2025 patut diapresiasi secara maksimal.
Selama 14 hari, mulai dari Tanggal 20 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, situasi kamtibcarlantas tetap terkendali meski arus mudik dan wisatawan membludak.
Data anev menunjukkan pendekatan preemtif menjadi senjata utama, dengan peningkatan binluh 100% menjadi 19.482 kali dan penyebaran materi edukasi melonjak 136,6% menjadi 64.254 kali.
Lonjakan penluh sebesar 48,7% hingga 63.542 kali membuktikan efektivitas sosialisasi dini dalam membentuk kesadaran berkendara.

Strategi ini kontras dengan era sebelumnya ketika pendekatan represif mendominasi. Sterilisasi 3.236 tempat ibadah dan koordinasi dengan 3.056 pengelola wisata semuanya naik 100% dan menunjukkan perencanaan matang yang mengantisipasi lonjakan mobilitas Nataru.
Untuk Pengamanan 19.853 lokasi strategis termasuk malam Tahun Baru mencerminkan komitmen totalitas. Koordinasi dengan 1.834 panitia perayaan menjadi kunci kelancaran di pusat keramaian.
Tentunya, pendekatan preventif ini tidak hanya menjaga kelancaran arus lalu lintas, tetapi juga meminimalkan potensi konflik horizontal di tengah euforia libur panjang.Namun, data represif mengungkap paradoks menarik.

Lihat, penegakan hukum ETLE berhasil menjerat 5.574 pelanggaran. Artinya, naik dramatis 245,6% sementara tilang konvensional merosot 100% menjadi hanya 27 surat.
Demikian, penurunan teguran 34% menjadi 5.390 kali menandakan transformasi penegakan hukum berbasis teknologi. Preemtif masif terbukti menggeser pola pelanggaran dari yang terang-terangan menjadi pelanggaran mikro yang tertangkap kamera.
Meski demikian, lakalantas naik 28% menjadi 292 kejadian menampar kesadaran kolektif kita. Korban meninggal dunia stabil di 20 orang, prestasi kecil namun berharga dengan penurunan 5%. Tragisnya, luka berat melonjak 250% menjadi 20 orang, sinyal bahaya yang tak boleh diabaikan.
Dari sisi kerugian material membengkak 129% menjadi Rp721 juta mencerminkan biaya sosial lalu lintas yang masih mahal.
Personel.Ditlantas Polda Sulsel, sebagai berhak bangga dengan sinergi yang melahirkan situasi kondusif. Pendekatan “edukasi dulu, tegur kemudian, tilang terakhir” terbukti relevan dengan karakter masyarakat Sulsel.
Sementara, Wadirlantas Polda Sulsel, AKBP Erwin Syah SIK sebagai Kasatgas Ops Lilin dan Dirlantas menunjukkan leadership yang visioner dalam mengarahkan 3.981 personel gabungan.
Namun editorial ini bukan sekadar pujian. Peningkatan lakalantas ringan harus menjadi peringatan dini. ETLE memang efektif menekan pelanggaran kecepatan, tetapi tidak cukup mengatasi kelalaian di persimpangan atau perilaku nekat pengendara mudik.
Program edukasi harus diperluas ke pelosok, menjangkau sopir angkutan pedesaan dan pengguna sepeda motor yang rentan.Keberhasilan Operasi Lilin Pallawa 2025 menjadi blueprint strategi kamtibcarlantas Sulsel ke depan. Model preemtif berbasis data ini layak dijadikan studi kasus nasional.

Yang terpenting, momentum ini harus dikonversi menjadi budaya keselamatan berkendara permanen, tak bernilai sukses musiman.
Ditlantas Polda Sulsel telah membuktikan bahwa kesadaran lahir dari pendekatan manusiawi, bukan hanya cambuk hukum. (*)