Catatan Redaksi
Sulawesi Selatan (Sulsel) sedang memasuki babak kepemimpinan baru di tubuh kepolisian daerah, pasca penyerahan Tongkat komando yang kini dipegang Irjen Pol. Awal Chaerudin tak sebatas simbol jabatan, melainkan amanah besar untuk menjaga Sulsel tetap aman, damai, dan bersatu searah tagline polri “Polisi Bersama Masyarakat”.
Hal itupun sejalan dengan makna mendalam Pataka Pallawa Lipu yang memiliki makna mendalam sebagai simbol dan kehormatan serta tanggungjawab dalam melindungi masyarakat dengan kehadiran polisi yang adil, humanis, tegas, dan selalu hadir ketika dibutuhkan.
Sebagai putra daerah, Awal Chaerudin memahami bahwa keamanan Sulsel tidak dapat dipisahkan dari kearifan budaya masyarakatnya. Nilai Siri’ na Pacce telah lama menjadi fondasi kehidupan bersama di tanah Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.
Nilai ini mengajarkan kehormatan, kepedulian, solidaritas, serta keberanian untuk hadir ketika sesama menghadapi kesulitan.
Siri’ menegaskan bahwa setiap insan harus menjaga harga diri dan martabatnya. Dalam konteks kepolisian, nilai ini berarti menjaga integritas jabatan, menegakkan hukum secara adil, dan tidak menyalahgunakan kekuasaan.
Sementara Pacce menuntut keberanian untuk turun ke tengah masyarakat, mendengar keluhan warga, dan hadir ketika rasa aman terancam.
Dalam sejarah membangun peradaban Sulawesi Selatan, kemajuan selalu lahir dari kebersamaan. Masyarakat pesisir dan pedalaman, petani dan nelayan, pedagang dan pelaku usaha, tokoh adat dan agama, selalu saling membutuhkan dalam menjaga kehidupan bersama.
Mereka menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, memperkuat solidaritas melalui gotong royong, dan menjaga wilayah sebagai tanggung jawab bersama.
Semangat itulah yang relevan untuk diterjemahkan ke dalam konsep “Polisi Berama Masyarakat”.
Polisi tidak cukup hanya datang setelah kejahatan terjadi. Mereka harus menjadi mitra warga dalam mencegah konflik, menjaga ketertiban, memberikan rasa aman, dan membangun kepercayaan.
Tentunya, kehadiran polisi harus dirasakan sebagai kehadiran yang menenangkan, bukan menakutkan.
Demikian halnya pada kearifan budaya lokal Sulsel dengan nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge menjadi pedoman penting dalam membangun hubungan tersebut.
Sipakatau berarti saling memanusiakan, sipakalebbi berarti saling menghormati, sedangkan sipakainge berarti saling mengingatkan.
Ketiganya menjadi dasar hubungan yang sehat antara polisi dan masyarakat, tanpa jarak, tanpa dominasi, dan tanpa ketakutan.
Karena itu, tongkat komando di tangan Irjen Pol. Awal Chaerudin menuntut kepemimpinan yang mampu menggabungkan ketegasan dan kemanusiaan.
Menghadapi tantangan keamanan di Sulsel tidak sederhana, mulai dari kejahatan jalanan, balap liar, tawuran, narkoba, kejahatan siber, hingga potensi konflik sosial.
Semua itu membutuhkan pendekatan yang tegas terhadap pelaku, tetapi tetap melindungi masyarakat yang menjadi korban.
Sebab itu, keberhasilan menjaga Sulsel tidak hanya diukur dari jumlah operasi atau penindakan.
Ukuran yang lebih penting adalah rasa aman yang dirasakan warga ketika beraktivitas, kepercayaan masyarakat terhadap aparat, serta semakin kuatnya kebersamaan di tengah keberagaman.
Polisi yang dekat dengan rakyat akan lebih mudah memahami persoalan dan lebih cepat mencegah masalah sebelum berkembang.
Di tengah harapan itu, Irjen Pol. Awal Chaerudin memikul amanah untuk memimpin Polda Sulsel dengan semangat Siri’ na Pacce.
Ia diharapkan mampu menghadirkan kepolisian yang berintegritas, berani menegakkan keadilan, dan dekat dengan masyarakat.
Tongkat komando harus menjadi alat untuk melindungi, bukan sekadar simbol kekuasaan.
Pada akhirnya, menjaga Sulsel agar lebih aman adalah tugas bersama antara polisi, pemerintah, tokoh masyarakat, dan seluruh warga.
Jika nilai Siri’ na Pacce dijalankan dengan tulus, maka Sulawesi Selatan akan semakin kuat sebagai wilayah yang aman, damai, bermartabat, dan bersatu dalam keberagaman.
Selamat Bertugas Jendral!


