JAKARTA– Tak sedikit nyawa melayang di jalan raya bukan karena takdir, tetapi karena kelalaian. Indonesia masih berkutat dengan tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang kerap kali menyisakan luka fisik dan trauma berkepanjangan.
Dalam konteks inilah, Operasi Patuh 2025 yang diluncurkan Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri perlu dilihat bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan sebagai refleksi atas upaya membangun peradaban berlalu lintas yang lebih manusiawi dan beradab.
Berlangsung serentak di seluruh wilayah Indonesia pada 14–27 Juli 2025, operasi ini menandai keseriusan Polri dalam menciptakan kondisi keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas).
Namun, berbeda dari pendekatan masa lalu yang cenderung represif, tahun ini Korlantas menekankan sinergi antara edukasi, pencegahan, dan penegakan hukum.
Tentu saja, razia tetap menjadi bagian dari mekanisme, tetapi bukan semata untuk menjaring pelanggar.
Kombes Pol Aries Syahbudin menegaskan, pendekatan preemtif dan preventif kini menjadi tulang punggung Operasi Patuh.
Edukasi langsung ke komunitas pengguna jalan, dari pengendara motor hingga sopir angkutan, menjadi prioritas. Ngopi bareng, diskusi santai, hingga dialog dua arah dijadikan jembatan antara polisi dan masyarakat.
Sebuah langkah kecil tetapi strategis: membangun kesadaran, bukan sekadar ketakutan.
Namun publik juga berhak mengingatkan bahwa edukasi hanya akan efektif jika aparat penegak hukum pun konsisten dan berintegritas.
Tak jarang, operasi lalu lintas justru menimbulkan keresahan karena praktik pungli atau penindakan yang diskriminatif.
Oleh karena itu, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan Operasi Patuh mesti dikawal ketat. Jika tidak, kepercayaan publik akan kembali luntur.
Di sisi lain, sasaran operasi pun harus tepat guna. Pelanggaran-pelanggaran yang selama ini memicu kecelakaan seperti melawan arus, tidak mengenakan helm, atau menggunakan ponsel saat berkendara perlu menjadi fokus utama, bukan pelanggaran administratif yang bersifat sepele.
Ini penting agar masyarakat memahami bahwa yang sedang dijaga bukan kepentingan birokrasi, melainkan nyawa manusia.
Operasi Patuh 2025 pada akhirnya adalah ujian bagi kita semua, apakah kita siap menjadikan jalan raya sebagai ruang publik yang aman, tertib, dan manusiawi. Karena bagaimana kita berkendara di jalan, sesungguhnya adalah cermin dari bagaimana kita hidup bermasyarakat. (*)
