Peringatan HUT ke-70 Lalu Lintas Bhayangkara pada 22 September 2025 menjadi tonggak sejarah penting bagi Korps Lalu Lintas Polri.
Oleh: Zulkifli Malik
Sejak lahir pada 22 September 1955 sebagai Seksi Lalu Lintas Jalan, Polantas telah berevolusi dari sekadar pengatur arus kendaraan menjadi institusi yang menyelamatkan nyawa, menjamin keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas atau yang dikenal dengan Kamseltibcarlantas.
Tema perayaan tahun ini, “Lalu Lintas Modern yang Berkeselamatan Menuju Asta Cita Indonesia Emas”, mencerminkan ambisi besar Polantas untuk menyesuaikan diri dengan era digital sekaligus mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Polantas dituntut menghadirkan layanan lalu lintas yang modern, presisi, dan berkeadilan dengan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Hal ini tentunya menjadi wujud nyata reformasi kepolisian di bidang lalulintas.
Reformasi layanan lalu lintas kini berakar pada konsep Presisi Prediktif, Responsibilitas, Transparansi, dan Berkeadilan.
Polantas Presisi tidak hanya berorientasi pada penegakan hukum, tetapi juga prediksi terhadap potensi pelanggaran, tanggung jawab pelayanan yang cepat, keterbukaan dalam setiap prosedur, serta penegakan hukum yang adil, sebagai wujud Polantas Reformasi.
Momentum HUT ini menegaskan bahwa Polantas tidak ingin sekadar menggelar seremoni, melainkan memaknainya sebagai panggilan moral.
Masyarakat menuntut pelayanan publik yang sederhana, efisien, dan humanis.
Oleh karena itu, perayaan ini diarahkan pada evaluasi capaian, refleksi kelemahan, serta perumusan strategi baru menghadapi tantangan lalu lintas yang semakin kompleks.
Beberapa capaian strategis 2025 menjadi sorotan.
Pertama, digitalisasi layanan administrasi SIM, STNK, dan BPKB yang memudahkan prosedur dan mengurangi birokrasi.
Kedua, perluasan Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) nasional yang menegakkan hukum berbasis teknologi, sehingga lebih transparan.
Ketiga, edukasi keselamatan lalu lintas bagi generasi muda, termasuk masuk ke sekolah, pesantren, dan komunitas anak muda.
Polantas juga menempatkan edukasi sebagai salah satu pilar utama. Tidak cukup hanya mengatur di jalan raya, mereka kini aktif hadir di ruang-ruang pendidikan.
Pesan yang disampaikan sederhana tapi fundamental: penggunaan helm standar, kepatuhan rambu, larangan berkendara bagi anak di bawah umur, dan penghindaran perilaku ugal-ugalan yang berisiko.
Peringatan HUT ini juga memperlihatkan wajah humanis Polantas.
Berbagai kegiatan sosial digelar, mulai dari bakti kesehatan, donor darah, pemeriksaan gratis, hingga sunatan massal.
Di beberapa daerah seperti Penajam Paser Utara (PPU), Polantas bahkan hadir dengan memberikan bantuan sembako untuk pesantren, menunjukkan bahwa kehadiran mereka tak terbatas pada jalan raya.
Namun, capaian tersebut belum menutup mata terhadap sejumlah tantangan. Angka kecelakaan lalu lintas masih cukup tinggi, terutama melibatkan Generasi Z yang kerap melanggar aturan berkendara.
Selain itu, distribusi infrastruktur teknologi masih belum merata di daerah terpencil, sehingga implementasi layanan presisi terhambat.
Sebagai sampel, data di Sulawesi Selatan (Sulsel) menunjukkan capaian signifikan dalam menekan angka kecelakaan. Misalnya, pada Operasi Keselamatan Pallawa 2025, terjadi penurunan 41% kasus kecelakaan dibanding tahun sebelumnya, dengan fatalitas korban meninggal berkurang drastis hingga 86%.
Angka ini menunjukkan bahwa strategi preemtif dan preventif dapat berdampak nyata.
Pada Triwulan II-2025, Sulsel mencatat 1.782 kasus kecelakaan, turun 8% dibanding triwulan sebelumnya. Data ini mengonfirmasi bahwa konsistensi operasi dan edukasi mampu menekan angka kecelakaan secara berkelanjutan. Bahkan, pada Operasi Patuh Pallawa 2024, kecelakaan di Sulsel turun hingga 24% dengan penurunan korban meninggal sekitar 55%.
Secara skala nasional, tren juga menunjukkan perbaikan. Pada Semester I 2025, Korlantas Polri mencatat jumlah kecelakaan turun 2,60% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Lebih penting lagi, korban meninggal dunia turun signifikan dari 13.781 jiwa pada 2024 menjadi 11.262 jiwa pada 2025 — penurunan sekitar 18,28%.
Kasus kecelakaan tunggal juga menurun 13,29% secara nasional. Bahkan, korban meninggal akibat kecelakaan tunggal turun lebih dari 10%.
Penurunan ini mengindikasikan keberhasilan kombinasi strategi penegakan hukum, patroli jalan, edukasi publik, dan pemanfaatan teknologi digital.
Meski demikian, angka kecelakaan menonjol yang berskala besar hanya turun sekitar 4,15%.
Artinya, kecelakaan dengan dampak fatal masih menjadi pekerjaan rumah. Faktor perilaku pengemudi, kondisi kendaraan, dan pengawasan jalan masih menjadi variabel krusial yang perlu diintervensi lebih agresif.
Dalam konteks edukasi, Generasi Z menjadi fokus utama. Mereka adalah kelompok pengguna jalan terbanyak dan juga agen perubahan di media sosial.
Dengan memanfaatkan pengaruh Generasi Z, Polantas berupaya menanamkan budaya berlalu lintas yang aman sebagai bagian dari gaya hidup, bukan sekadar kewajiban.
Selain itu, modernisasi Polantas ditunjang oleh teknologi. ETLE mengurangi interaksi langsung antara petugas dan pengendara, sehingga menekan potensi pungutan liar.
Digitalisasi layanan administrasi mempercepat proses perpanjangan SIM dan pembayaran pajak, sekaligus meningkatkan kepercayaan publik.
Indeks kepercayaan publik terhadap Polri yang meningkat dari 84,83% menjadi 94,92% menjadi bukti nyata manfaat reformasi digital dan humanisasi pelayanan.
Angka ini menegaskan bahwa masyarakat mulai melihat Polantas bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga pelayan yang bisa dipercaya.
Tidak kalah penting, peringatan ini menekankan kolaborasi lintas sektor. Polantas tidak bekerja sendirian, melainkan bersama TNI, Satpol PP, Jasa Raharja, rumah sakit, dan lembaga pendidikan. Sinergi ini memperluas jangkauan kampanye keselamatan lalu lintas hingga ke pelosok negeri.
Namun agar reformasi tidak berhenti pada momen seremonial, diperlukan langkah lanjutan.
Evaluasi rutin, penguatan infrastruktur ETLE, serta penyebaran teknologi ke daerah terpencil harus menjadi prioritas.
Pendidikan lalu lintas juga perlu dimasukkan ke kurikulum sekolah agar membentuk budaya sejak dini.
Polantas juga perlu menjadikan kegiatan sosial seperti bakti kesehatan dan pemberian sembako bukan hanya agenda tahunan, melainkan rutinitas yang mengakar.
Transparansi penggunaan dana dan laporan penegakan hukum juga harus terus dipublikasikan agar akuntabilitas publik terjaga.
Dengan demikian, HUT ke-70 Polantas bukan hanya perayaan usia, melainkan momentum reformasi.
Capaian penurunan kecelakaan, digitalisasi layanan, peningkatan kepercayaan publik, dan pendekatan humanis menunjukkan kemajuan besar.
Namun tantangan tetap menanti, sehingga Polantas harus konsisten berevolusi agar benar-benar menjadi pelindung, pelayan, dan pengayom masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.
