MAKASSAR – Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol M Awal Chairuddin mulai berkantor di Markas Polda Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Pai, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Jumat (9/10/2026).
Kedatangan Irjen Awal Chairuddin bersama istrinya disambut Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Gidion Arif Setiawan di gerbang utama Mapolda Sulsel.
Penyambutan berlangsung dalam suasana khidmat dengan perpaduan tradisi adat Bugis-Makassar dan seremoni kedinasan kepolisian.
Brigjen Gidion tampak mengalungkan kain sutra khas Sulawesi Selatan ke bahu Irjen Awal Chairuddin. Sejumlah personel kemudian mengiringi langkah Kapolda Sulsel dengan membawa payung adat.

Disambut Angngaru dan Tari Padduppa
Rangkaian penyambutan berlanjut dengan penampilan Angngaru yang dibawakan personel Brimob Polda Sulsel.
Tradisi Angngaru merupakan ikrar atau sumpah setia dalam budaya Makassar. Istilah tersebut berasal dari kata aru yang berarti sumpah atau ikrar.
Dalam prosesi penyambutan itu, Angngaru menjadi simbol penghormatan sekaligus pesan kesetiaan dalam menjalankan amanah dan tanggung jawab.
Suasana semakin semarak dengan penampilan Tari Padduppa yang dibawakan sebagai bentuk penghormatan kepada pejabat yang datang.
Penyambutan bernuansa adat tersebut memberi warna tersendiri pada hari pertama Irjen Awal Chairuddin mulai menjalankan tugasnya di Mapolda Sulsel.
Setelah prosesi Angngaru selesai, rangkaian penyambutan dilanjutkan dengan jajar kehormatan.
Jajar kehormatan merupakan bentuk penghormatan resmi dalam lingkungan militer dan kepolisian bagi pejabat tinggi atau tamu kehormatan.
Prosesi tersebut diperagakan personel Sabhara Polda Sulsel. Para personel berdiri dalam barisan rapi dengan senjata tersandang di dada.
Usai menerima laporan tersebut, Irjen Awal Chairuddin menyalami satu per satu personel yang mengikuti jajar kehormatan.
Prosesi turut diiringi penampilan marching band Polda Sulsel, yang menambah suasana khidmat dalam penyambutan perdana Kapolda Sulsel di markas barunya.
Penyambutan Irjen Awal Chairuddin tidak sekadar seremoni kedinasan. Penggunaan kain sutra, payung adat, Angngaru, Tari Padduppa, hingga jajar kehormatan menunjukkan perpaduan antara identitas budaya lokal dan tradisi institusi kepolisian.

Angngaru, khususnya, memiliki makna kuat karena mengandung pesan kesetiaan dan kesiapan mengemban amanah.
Di tengah tugas kepolisian yang berkaitan langsung dengan keamanan, ketertiban, pelayanan publik, dan perlindungan masyarakat, prosesi tersebut menjadi simbol harapan agar kepemimpinan baru di Polda Sulsel mampu menghadirkan rasa aman serta pelayanan yang semakin dekat dengan masyarakat sejalan tagline Kapolri “Polisi Bersama Masyarakat”.


