Close Menu
LANTAS INFO
  • Home
  • Nasional
  • Edukasi
  • Hukum
  • Mitra
  • Pelayanan
  • Peristiwa
  • Profile
  • Ragam
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, Oktober 24
  • Redaksi
  • Home
Facebook X (Twitter) LinkedIn VKontakte
LANTAS INFOLANTAS INFO
Banner
  • Home
  • Nasional
  • Edukasi
  • Hukum
  • Mitra
  • Pelayanan
  • Peristiwa
  • Profile
  • Ragam
  • Video
LANTAS INFO
  • Home
  • Nasional
  • Edukasi
  • Hukum
  • Mitra
  • Pelayanan
  • Peristiwa
  • Profile
  • Ragam
  • Video
Home»Pelayanan»Editorial: Waspada Infrastruktur Rapuh, Saatnya Evaluasi Jalur Poros Pekkae–Soppeng, Sulsel
Pelayanan

Editorial: Waspada Infrastruktur Rapuh, Saatnya Evaluasi Jalur Poros Pekkae–Soppeng, Sulsel

Lantas InfoBy Lantas InfoMei 25, 2025Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Copy Link
Share
WhatsApp Facebook Twitter Copy Link

BARRU– Imbauan Polres Barru kepada pengendara kendaraan berat, khususnya truk bertonase tinggi, untuk tidak melintasi jalur poros Pekkae–Soppeng patut menjadi perhatian serius semua pihak.

Imbauan yang disampaikan langsung oleh Kasat Lantas Polres Barru, AKP Ida Ayu Made Ari Suastini, S.H, pada Sabtu (24/05/2025), muncul menyusul insiden terperosoknya truk sepuluh roda di Desa Libureng, Kecamatan Tanete Riaja, akibat amblasnya badan jalan.

Kondisi jalan yang amblas mencerminkan lemahnya infrastruktur penunjang jalur penghubung antardaerah, terlebih pada ruas-ruas vital seperti Pekkae–Soppeng yang dilalui kendaraan logistik dan transportasi besar.

Gangguan akibat satu kendaraan terperosok dapat melumpuhkan arus lalu lintas, bahkan memicu potensi kecelakaan susulan jika tidak segera diantisipasi.

Langkah cepat petugas lalu lintas yang saat ini berada di lokasi untuk mengatur kendaraan dan mengevakuasi truk yang terperosok, tentu layak diapresiasi.

Namun, persoalan mendasarnya bukan semata pada pengaturan lalu lintas, melainkan pada urgensi evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan jalan yang dilintasi kendaraan dengan beban berat.

Imbauan yang disampaikan Kasat Lantas agar kendaraan bertonase tinggi menggunakan jalur alternatif sementara waktu, adalah keputusan taktis yang bijak.

Namun, sampai kapan kebijakan ini akan berlangsung? Apakah ada skenario jangka panjang untuk memperbaiki jalur tersebut agar dapat kembali dilalui dengan aman dan layak?

Sebagai jalur penghubung utama antara wilayah pesisir dan pegunungan, poros Pekkae–Soppeng tentu memiliki peran strategis dalam distribusi barang dan mobilitas masyarakat.

Ketika jalur ini tidak bisa diandalkan secara struktural, dampaknya bukan hanya kemacetan, tetapi juga kerugian ekonomi bagi pelaku usaha transportasi dan distribusi barang.

Kondisi ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera turun tangan.

Perlu ada audit teknis menyeluruh terhadap kekuatan konstruksi jalan, terutama pada titik-titik rawan amblas seperti di Desa Libureng.

Jangan sampai insiden serupa berulang hanya karena perbaikan yang dilakukan bersifat tambal sulam.

Lebih jauh, kejadian ini menunjukkan bahwa komunikasi antara aparat kepolisian dan pemerintah daerah harus terus ditingkatkan.

Ketika Polres Barru sudah mengambil langkah antisipatif, maka instansi teknis seperti Dinas PU dan Bina Marga harus segera bertindak dalam ranah perbaikan struktural.

Jangan sampai aparat di lapangan bekerja keras, sementara kebijakan penunjang dari atas tak kunjung hadir.

Kepada para pengendara, khususnya sopir truk, kewaspadaan dan kepatuhan terhadap imbauan petugas adalah bentuk tanggung jawab moral terhadap keselamatan bersama.

Mengikuti arahan petugas di lapangan bukan hanya demi kelancaran pribadi, tetapi juga demi menjaga jalur distribusi yang digunakan banyak pihak.

Kita semua tentu berharap, peristiwa seperti ini tidak terus menjadi siklus tahunan. Perlu langkah konkret, cepat, dan terencana untuk memperbaiki serta memperkuat infrastruktur jalan, khususnya di wilayah rawan.

Imbauan Polres Barru hanyalah awal. Tanggung jawab yang lebih besar kini ada di tangan pemerintah daerah untuk memastikan bahwa jalur vital seperti poros Pekkae–Soppeng tidak lagi menjadi titik lemah sistem transportasi di daerah ini. (*)

 

Ditlantas Polda Sulsel
Share. Facebook Twitter Email WhatsApp Telegram
Previous ArticleDua Hari Penindakan Over Dimensi dan Over Load, Ditlantas Polda Sulsel Catat 104 Pelanggaran di 23 Polres Jajaran
Next Article Truk Fuso Rem Blong, Tabrak Rumah dan Motor di Bulukumba

Berita Lainnya

Satlantas Polres Pangkep Survei Jalan Rawan Lakalantas. Ini Temuannya!

Oktober 22, 2026

Kapolda Sulsel Monitoring Unjuk Rasa Dua Tahun Prabowo-Gibran

Oktober 20, 2026

Kapolda Sulsel: Personel Kepolisian Lalulintas Hadir sebagai Solusi Kemacetan

Oktober 16, 2026
Berita Terbaru

Ops Patuh 2026 Dimulai 26 Oktober, Satlantas Polres Bone Siap Tertibkan Pengguna Jalan

Oktober 24, 2026

KOLOM: Polantas yang Memberi Arti, Dari Kehadiran Menuju Kepatuhan

Oktober 23, 2026

Siap-siap Polda Sulsel Bakal Gelar Operasi Patuh Pallawa 2026!

Oktober 22, 2026

Kakorlantas Polri: Mulai Tugas dari Doa

Oktober 22, 2026
  • HUKUM

Ops Patuh 2026 Dimulai 26 Oktober, Satlantas Polres Bone Siap Tertibkan Pengguna Jalan

Oktober 24, 2026

Siap-siap Polda Sulsel Bakal Gelar Operasi Patuh Pallawa 2026!

Oktober 22, 2026

ANALISIS: Ketika “EWAKO” Diuji Aksi Perang Kelompok

Oktober 18, 2026

Kapolda Sulsel Kunjungi Brimob: Pahami Perkembangan Strategis, Regional Maupun Global

Oktober 15, 2026
Copyright © 2017. LANTAS INFO RhynaldKing.
  • Redaksi
  • Home

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.