Jakarta– Minggu pagi, udara Bundaran HI terasa lebih segar dari biasanya. Ribuan warga tumpah ruah menikmati car free day, bersepeda, berjalan kaki, hingga sekadar bercengkerama bersama keluarga.

Namun, ada yang berbeda pada 24 Agustus 2025 itu. Di tengah riuh rendah aktivitas warga, terselip sebuah panggung sederhana bertuliskan Polantas Menyapa  Retrospeksi Korban Kecelakaan Lalu Lintas.

Tampak, PT. Jasa Raharja dan Korlantas Polri bersama dlama kegiatan tersebut menyadarkan bahwa setiap langkah kecil untuk tertib di jalan bisa menyelamatkan nyawa.

Sementara, di atas panggung, Kakorlantas Polri, Irjen Pol Agus Suryo Nugroho, berdiri dengan nada suara yang bergetar.

“Saya harus jujur, sampai hari ini angka kecelakaan masih tinggi. Saya prihatin, sekaligus memohon maaf. Tapi saya juga ingin mengajak kita semua, jangan berhenti berharap. Mari menatap masa depan dengan lebih disiplin di jalan raya,” ucapnya, yang langsung disambut tepuk tangan warga.

 

Tak jauh dari sana, para penyandang disabilitas korban kecelakaan duduk berdampingan. Wajah mereka menyimpan kisah, ada luka yang tak terlihat oleh mata.

Namun kehadiran mereka hari itu menjadi bukti nyata bahwa kecelakaan bukan sekadar angka di statistik, melainkan kenyataan pahit yang mengubah hidup.

Demikian, Plt Direktur Utama Jasa Raharja, Dewi Aryani Suzana, menambahkan bahwa retrospeksi ini adalah momen untuk belajar.

“Setiap kecelakaan selalu meninggalkan luka, baik fisik, psikis, maupun ekonomi. Dari sinilah kita diajak untuk tidak abai. Keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama,” katanya dengan tegas.

Acara pagi itu juga melibatkan komunitas ojek online, klub motor, hingga Tiger Riders Club. Mereka hadir bukan hanya sebagai penonton, melainkan sebagai simbol bahwa semua pengguna jalan, tanpa terkecuali, memiliki peran untuk mewujudkan jalan raya yang lebih aman.

Kakorlantas pun menutup dengan ajakan yang sederhana namun sarat makna:

“Mari kita jadi agen keselamatan. Tertib berlalu lintas bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain yang kita sayangi.”

 

Suasana car free day yang biasanya penuh tawa seakan berganti dengan renungan. Di balik kemeriahan, setiap orang diajak kembali bertanya pada diri sendiri: apakah sudah cukup hati-hati saat berkendara? Apakah sudah menjadi contoh disiplin di jalan?

Retrospeksi pagi itu bukan hanya tentang mengingat masa lalu, melainkan tentang menyemai kesadaran baru, bahwa keselamatan adalah hadiah yang bisa kita berikan untuk diri kita sendiri, keluarga, dan sesama pengguna jalan. (*)

Berita Terkait