JAKARTA– Pemerintah bersama kepolisian dan pemangku kepentingan transportasi terus mengintensifkan koordinasi lintas sektor guna memastikan kelancaran serta keselamatan perjalanan masyarakat selama masa Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan analisa dan evaluasi (anev) Operasi Nataru yang digelar Kementerian Perhubungan bersama Korlantas Polri, Jasa Marga, dan Jasa Raharja.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa evaluasi semacam ini merupakan agenda strategis yang secara rutin dilakukan pada setiap periode angkutan besar nasional, baik Nataru maupun Lebaran.

Langkah tersebut bertujuan memastikan seluruh unsur pengamanan dan pelayanan transportasi berjalan selaras di lapangan.

Menurut Dudy, evaluasi kali ini juga menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan petugas sekaligus memantapkan koordinasi antarlembaga. Ia turut mengajak seluruh pihak dan masyarakat untuk berdoa bersama agar pelaksanaan angkutan Nataru dapat berlangsung aman, tertib, dan minim risiko kecelakaan.

“Kami berharap masyarakat tetap waspada selama perjalanan dan mengikuti seluruh arahan petugas di lapangan demi keselamatan bersama,” ujar Menhub.

Sementara itu, Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho menyampaikan bahwa pergerakan kendaraan keluar Jakarta menuju Sumatera dan wilayah Trans Jawa telah melampaui hampir setengah dari total proyeksi.

Hingga saat ini, tercatat sekitar 201 ribu kendaraan atau setara 49 persen telah meninggalkan Jakarta melalui jaringan jalan tol.

“Secara umum, fase arus mudik Nataru sudah terlewati. Saat ini fokus kami adalah menjaga stabilitas lalu lintas sekaligus mempersiapkan strategi pengamanan arus balik,” jelasnya.

Dalam forum evaluasi tersebut, Korlantas Polri kembali menekankan implementasi kebijakan Surat Keputusan Bersama (SKB) terkait pembatasan operasional kendaraan angkutan barang sumbu tiga.

Larangan tersebut berlaku baik di ruas tol maupun jalan arteri pada jam-jam tertentu, yakni mulai sore hingga dini hari.

Irjen Agus menegaskan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan tersebut akan ditindak tegas.

“Keselamatan pengguna jalan dan kelancaran arus lalu lintas adalah prioritas utama. Karena itu, pengemudi dan pelaku usaha angkutan barang diimbau mematuhi aturan yang telah ditetapkan,” tegasnya.

Kabar menggembirakan turut datang dari aspek keselamatan lalu lintas. Berdasarkan data sementara Operasi Nataru, angka fatalitas kecelakaan menunjukkan tren penurunan signifikan.

Jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas tercatat menurun lebih dari 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Capaian tersebut, menurut Korlantas, menjadi pijakan penting untuk terus meningkatkan kualitas pengamanan dan pelayanan, khususnya menjelang puncak arus balik di jalur tol, jalan arteri, pelabuhan penyeberangan, hingga kawasan wisata.

Dari sisi pengelola jalan tol, Direktur Utama Jasa Marga Rivan mengungkapkan bahwa realisasi volume kendaraan selama Nataru menunjukkan peningkatan dibanding tahun lalu. Dari proyeksi 2,9 juta kendaraan, hingga Kamis siang tercatat sekitar 1,45 juta kendaraan atau hampir 49 persen telah melintas.

“Volume ini meningkat sekitar 3,5 persen dibanding periode yang sama pada 2024 dan diperkirakan masih akan bertambah hingga akhir Desember,” jelas Rivan.

Adapun Jasa Raharja mencatat penurunan nilai santunan korban kecelakaan. Direktur Utama Jasa Raharja Dewi menyebutkan, hingga saat ini total santunan bagi korban meninggal dunia yang telah disalurkan mencapai Rp8,2 miliar, atau turun sekitar 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Evaluasi lintas sektor ini diharapkan mampu menjaga kesinambungan pengelolaan lalu lintas dan transportasi nasional hingga berakhirnya masa libur Nataru, sekaligus memastikan masyarakat dapat melakukan perjalanan dengan aman dan nyaman.(*)

Berita Terkait