JAKARTA– Pernyataan resmi dari Kakorlantas Polri, Irjen Agus Suryonugroho, menegaskan bahwa selama operasi tidak akan ada tindakan tilang manual, melainkan hanya melalui sistem electronic traffic law enforcement (e-TLE) yang difokuskan pada pemantauan dan evaluasi.

Pendekatan ini merepresentasikan pergeseran dari model represif konvensional menuju orientasi humanis, di mana negara tidak hanya mengatur arus lalu lintas, tetapi juga menjaga momentum sosial dan spiritual masyarakat selama periode Lebaran.

Irjen Agus menyampaikan pernyataan tersebut pasca memimpin Tactical Floor Game (TFG) persiapan Operasi Ketupat 2026 di Gedung NTMC Polri, Jakarta Selatan, pada Selasa (3/3/2026).

“Operasi Ketupat 2026 adalah operasi kemanusiaan. Bukan hanya operasi lalu lintas, bukan hanya mengamankan arus mudik dan balik, tetapi negara hadir untuk menjaga momentum sosial dan spiritual masyarakat,” tegasnya.

Narasi ini menggarisbawahi dimensi multifaset operasi, yang melampaui fungsi administratif lalu lintas untuk menjadi instrumen kebijakan publik yang inklusif.

Operasi ini mengusung tagline ‘Mudik Aman, Keluarga Bahagia’ sesuai arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Irjen Agus menekankan bahwa slogan tersebut tak sebatas retorika melainkan komitmen substantif untuk memastikan rangkaian mudik dan arus balik Lebaran berjalan aman, selamat, tertib, dan lancar.

“Ini komitmen yang kami jaga setiap hari, yang kami amankan bukan hanya arus kendaraan, tetapi perjalanan keluarga,” ujarnya.

Pendekatan ini mencerminkan integrasi nilai-nilai keluarga dalam kerangka keamanan transportasi nasional. Korlantas Polri mengintegrasikan teknologi berbasis data dengan pemantauan real time sebagai pilar utama strategi.

Parameter yang dimanfaatkan meliputi radar lalu lintas, V-count (vehicle count), pemantauan e-TLE, serta data dari NTMC dan Command Center di Km 29 untuk menentukan respons cepat di lapangan.

Ir “Keselamatan tidak terjadi kebetulan. Ia dirancang dan dikawal dengan sistem,” tegas Kakorlantas Polri.

Paradigma ini menunjukkan transformasi operasional menuju model prediktif dan berbasis bukti, yang meningkatkan efisiensi pengelolaan arus lalu lintas massal.Sistem e-TLE tetap dioperasikan selama operasi, dengan penegakan hukum terbatas pada mode statis maupun mobile, sementara e-TLE di jalan tol difokuskan pada pemantauan, identifikasi, dan pengumpulan data evaluatif.

“Selama Operasi Ketupat tidak dilakukan penegakan hukum secara manual. Kita mengedepankan pelayanan. e-TLE di tol hanya memantau dan mengidentifikasi,” terang Irjen Agus.

Kebijakan ini mengilustrasikan prinsip proporsionalitas dalam penegakan hukum, di mana prioritas pelayanan menggantikan pendekatan sanksi langsung untuk meminimalisir konfrontasi di lapangan.

Kegiatan TFG dihadiri oleh pejabat tinggi seperti Waastama Ops Kapolri Irjen Laksana, Direktur Utama PT Jasa Marga Rivan Achmad Purwantono, Direktur Utama PT Jasa Raharja Muhammad Awaluddin, Direktur Lalu Lintas Jalan Kementerian Perhubungan Rudi Irawan, Direktur Teknik PT ASDP Indonesia Ferry Nana Sutisna, serta perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum.

Kolaborasi lintas instansi ini memperkuat koordinasi multisectoral dalam pengamanan mudik Lebaran.Secara keseluruhan, Operasi Ketupat 2026 digelar selama dua pekan, dari 13 hingga 25 Maret 2026, dengan tema ‘Mudik Aman, Keluarga Bahagia’.

Strategi ini tidak hanya menjawab tantangan arus mudik tahunan, tetapi juga mereposisi peran Polri sebagai fasilitator kemanusiaan dalam konteks kebijakan publik kontemporer.(*)

Berita Terkait