LANTASINFO– Di panggung arus balik Lebaran Idulfitri 1447 H/2026, Polantas Polda Sulawesi Selatan tak hanya mengamankan lalu lintas, melainkan merajut kisah kemanusiaan lewat Operasi Ketupat Pallawa 2026.
Konsep Polisi “Mappatabe”inti kearifan Bugis Makassar tentang gotong royong dan saling jaga menjadi benang merah yang mengikat fakta empiris menuju sukses operasi.
Operasi yang digelar serentak 13-25 Maret 2026 lalulintas yang diawasi langsung Kasatgas Kamseltibcarlantas Kombes Pol. Dr. Pria Budi SIK, MH menjadi inisiatif dalam meracik solidaritas budaya untuk melindungi ribuan pemudik, mengubah paradigma represif menjadi preventif.
Bayangkan jalan raya Sulsel sebagai denyut nadi budaya, pemudik membawa doa silaturahmi, bus antarprovinsi penuh harap, serta kapal penyeberangan membelah Selat Makassar.
Sementara Data Ditlantas Polda Sulsel mencatat lonjakan 17.320 penumpang di terminal, 14.357 di pelabuhan (9-15 unit kapal harian), dan 177.706 di bandara naik 6% dari 2025.
Di sini, Polantas “Mappatabe” beraksi melalui sosialisasi preventif melonjak 126% menjadi 88.013 kali, plus spanduk dan leaflet meledak 244% hingga 116.776 kali, membangun kesadaran kolektif agar mudik jadi perjalanan aman, bukan tragedi.
Pendekatan ini meresap ke seluruh lapisan operasi. Patroli lalu lintas naik 79% menjadi 49.455 kali, rekayasa lantas di tol, wisata, dan pelabuhan melonjak 100% dari nol tahun lalu menjadi 7.989 kali.
Demikian Sub Satgas TAA bahkan catat nol kasus olah TKP, tanda pencegahan sempurna. Integrasi edukasi lokal dengan teknologi ETLE (naik 170% jadi 4.657 tilang), teguran turun 25%, dan tilang manual anjlok 98% ke 11 kasus, membuktikan persuasif budaya unggul atas represi.
Hasilnya mencerminkan kemenangan kemanusiaan. Meski kecelakaan naik tipis 9% menjadi 355 kejadian dan luka ringan 4% jadi 472 orang, korban jiwa turun drastis 35% menjadi 24 jiwa.
Ini bukan kebetulan, melainkan rekayasa budaya mendalam di mana data empiris jadi bukti transformasi.
Secara intelektual, kesuksesan ini merefleksikan paradigma polisi berbasis kearifan lokal. “Mappatabe” bukan slogan kosong, melainkan etos yang mengedepankan keselamatan sebagai prioritas, mengintegrasikan adat Bugis Makassar dengan strategi modern.
Nah, Sulsel membuktikan konsep ini efektif, berkelanjutan, dan berpotensi jadi model nasional di tengah mozaik budaya Indonesia bukti bahwa adaptasi lokal bisa selamatkan nyawa di arus mudik. (*)
