JKAARTA– Senin, 6 Juli 2026, Lapangan NTMC Korlantas di Jakarta menjadi saksi pergeseran kepemimpinan yang tak sebatas rutinitas.

Irjen Pol. Wibowo, S.I.K., M.Hum., Kakorlantas Polri, memimpin pelantikan dan serah terima jabatan sejumlah pejabat utama langkah yang menurutnya bagian dari upaya memperkuat struktur organisasi dan menyegarkan dinamika korps.

Dalam susunan yang diumumkan, Brigjen Pol. Komarudin diangkat sebagai Direktur Registrasi dan Identifikasi (Dirregident) Korlantas, sementara Kombes Pol. Budi Santosa dipercaya memegang posisi Kepala Bagian Perencanaan dan Administrasi (Kabag Renmin).

Peralihan fungsi operasional juga terjadi, seperti jabatan Kepala Bagian Operasi (Kabag Ops) berpindah dari Kombes Pol. Aries Syahbudin kepada Kombes Pol. Turmudi.

Keempat perwira, berdiri sejajar memakai seragam dinas, menegaskan kontinuitas institusi lewat prosesi yang khidmat.

Kakorlantas Polri tentunya menjadi titik fokus dengan  rotasi jabatan diposisikan sebagai alat penguatan organisasi.

Wibowo menekankan pentingnya menjalankan amanah dengan ketulusan, memperkokoh kerja sama, dan menjaga martabat korps.

Memang, pesannya singkat namun bernuansa manajerial, tidak ada ruang untuk langkah sendiri dan menjadikan  keberhasilan Korlantas bergantung pada kolaborasi kolektif untuk menghadirkan wajah yang lebih baik.

Menariknya, Kakorlantas menggunakan metafora sederhana “singkong” untuk menyampaikan nilai kepemimpinan yang diinginkan.

Singkong, bagi Wibowo, mewakili kesederhanaan, kemampuan beradaptasi, kerendahan hati, dan ketangguhan dengan  kualitas yang ia harapkan tumbuh di antara personel Korlantas.

Pilihan simbol ini bukan sekadar retorika rakyat, ia menawarkan panduan praktis bagi birokrasi yang seringkali terjebak pada formalitas tanpa substansi.

Secara prosedural, upacara mengikuti rangkaian formalitas administratif dengan  pembacaan Keputusan Kapolri, pengambilan sumpah, penandatanganan berita acara serah terima dan sumpah jabatan, serta penandatanganan pakta integritas.

Serangkaian langkah ini menegaskan bahwa selain aspek simbolik, ada juga komitmen institusional untuk akuntabilitas dan tanggung jawab hukum.

Nah, pergantian pejabat di tubuh Korlantas ini wajar dalam siklus organisasi namun efeknya bergantung pada bagaimana pesan-pesan seperti kolaborasi, integritas, dan keteladanan yang diusung oleh pimpinan diimplementasikan di lapangan.

Kegiatan pelantikan  dan pakta integritas penting sebagai landasan, namun tantangan sesungguhnya adalah menerjemahkan filosofi singkong menjadi praktek kerja sehari-hari yang mengubah budaya birokrasi, memperbaiki layanan publik, dan meningkatkan kinerja dalam pengaturan lalu lintas yang kian kompleks. (*)

Berita Terkait