WAJO– Selasa, (17/2), sekitar pukul 15.00 WITA, Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polres Wajo melaksanakan kegiatan patroli dan pemetaan arus lalu lintas di wilayah hukumnya, khususnya Jalan Poros Makassar-Palopo dan Jalan Poros Sengkang-Anabanua.

Inisiatif ini kata Kasatlantas Polres Wajo, AKP Ryanda Putra, merupakan respons proaktif terhadap proyeksi peningkatan volume kendaraan menjelang arus mudik Bulan Suci Ramadhan, yang secara historis memicu lonjakan mobilitas masyarakat antar-kabupaten di Sulawesi Selatan.

“Kegiatan ini mengimplementasikan prinsip pencegahan berbasis data lapangan, sebagaimana diamanatkan dalam regulasi lalu lintas nasional untuk menjaga kelancaran dan keselamatan publik,” ucap Ryanda.

Dari Pemetaan tersebut lanjut Kasatlantas Polres Wajo, secara empiris mengidentifikasi karakteristik jalur provinsi sebagai koridor utama dengan intensitas lalu lintas tinggi, didominasi kendaraan antar-kabupaten/kota dan angkutan logistik.

“Ada beberapa titik-titik rawan kemacetan serta lokasi berpotensi kecelakaan, terutama akibat penyempitan badan jalan dari proyek perbaikan infrastruktur dan pembangunan irigasi,” tambahnya.

Sementara dari dinamika lalu lintas di Wajo, di mana faktor eksternal seperti pekerjaan konstruksi sering kali memperburuk vulnerabilitas sistem transportasi, sebagaimana tercermin dalam data kecelakaan lalu lintas tahunan Polda Sulsel.

“Sebagai tindak lanjut strategis, personel Sat Lantas menerapkan pengaturan lalu lintas di titik kritis, pemasangan rambu peringatan sementara, serta koordinasi intensif dengan pelaksana proyek untuk mengoptimalkan penempatan material dan alat berat,” tegas manta Kanit Regident SIM Satlantas Polrestabes Makassar ini.

Tentunya, langkah-langkah ini tidak hanya mitigasi risiko perlambatan arus pada jam sibuk, tetapi juga memperkuat paradigma pengawasan preventif.

Selain itu, diseminasi himbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, mengurangi kecepatan, dan mematuhi instruksi petugas kata Ryanda, mencerminkan pendekatan partisipatif dalam manajemen risiko lalu lintas, yang esensial bagi ketahanan sistem mobilitas regional.

“Situasi arus lalu lintas selama kegiatan tercatat aman, tertib, dan lancar terkendali, menegaskan efektivitas operasi berkala sebagai instrumen kesiapsiagaan institusional,” pungkasnya.

Nah, secara keseluruhan, inisiatif ini berkontribusi pada diskursus reformasi lalu lintas di Sulawesi Selatan, dengan potensi replikasi di koridor mudik lain.

Diketahui pula, di tengah tantangan infrastruktur dan puncak arus Ramadhan, model pemetaan berbasis patroli ini memperkuat resiliensi transportasi, sekaligus menekankan urgensi integrasi data digital untuk prediksi lalu lintas masa depan. (*)

Berita Terkait