BEKASI– Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan terus mematangkan strategi penanganan kendaraan Over Dimension and Over Loading salah satunya melalui integrasi data dan pemanfaatan teknologi Weigh In Motion (WIM).

Hal ini disampaikan Dirjen Perhubungan Darat, Aan Suhanan, saat kunjungan kerja ke Kantor Jasa Marga Tollroad Command Center (JMTC) di Bekasi, Selasa (17/6).

Dalam pertemuan tersebut, Dirjen Aan menggarisbawahi pentingnya integrasi data antara Kemenhub dan Jasa Marga, meliputi legalitas kendaraan, identitas pemilik barang, hingga bobot muatan.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah fondasi penting dalam penanganan kendaraan ini yang komprehensif dan berkelanjutan.

“Setelah data terintegrasi, kita akan punya basis informasi yang kuat. Ini langkah mutlak,” ujarnya.

Dirjen Aan menekankan bahwa penanganan Over Dimensi dan Over Load tidak cukup hanya dengan penegakan hukum di lapangan, melainkan memerlukan sistem yang dibangun dari hulu ke hilir serta kolaborasi berbagai instansi.

Ia juga menyoroti potensi besar teknologi WIM yang telah terpasang di beberapa ruas tol Jasa Marga. Saat ini, hanya sekitar 3,9% kendaraan terindikasi Over Dimensi dan Over Load yang masuk ke jembatan timbang.

Jika WIM terintegrasi dengan sistem UPPKB Kemenhub, jangkauan pengawasan akan meningkat signifikan.

Menurut Aan, WIM yang terhubung dengan sistem penegakan hukum akan memberikan efek jera meski sanksinya masih berupa tilang.

“Bila penindakan dilakukan terus-menerus dan sistematis, tetap memberi dampak terhadap pelanggar,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Aan menyerukan sinergi nasional antar pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Perindustrian, Perdagangan, PUPR, hingga Kepolisian, untuk membangun sistem digital terintegrasi.

“Jika proses dilakukan secara digital dan saling terhubung dari hulu ke hilir, maka penanganan Over Dimensi dan Over Load dapat berjalan tuntas dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait