PAPUA SUPIORI— Saat adzan Jumat berkumandang di Kampung Aminweri, bukan hanya lantunan doa yang memenuhi udara: aroma nasi hangat dan tawa kecil juga menyusup ke halaman Masjid An‑Nur.
Di bawah pepohonan yang meneduhkan, warga berkumpul setelah sholat Jumat untuk menerima satu bungkus nasi kotak sebuah kebiasaan sederhana yang kini menjadi momen penting bagi komunitas setempat.
Program SEJUK (Semangat Jumat Berkah dan Bakti Sosial) yang digelar Prajurit Yonif TP 859/RBK, Jumat (12/06/2026), bukan sekadar aksi seremonial.
Dipimpin Letda Inf Imbi Fo, anggota satuan terlihat menyapu lantai masjid, merapikan tikar, lalu berjabat tangan hangat dengan para jamaah.
Bagi mereka yang datang, kehadiran tentara berubah menjadi pelukan kecil dari negara: perhatian yang terasa dekat dan akrab.
“Saya pergi ke masjid untuk beribadah, pulang membawa rasa didengar. Mereka bukan hanya membagikan nasi—mereka membawa senyum,” kata Mursam, salah seorang jamaah, sambil tersenyum dan menunjuk paket makanan yang baru diterimanya.
Di wajah lain, seorang ibu yang sudah lanjut usia meneteskan air mata haru ketika seorang prajurit membantunya menaruh paket di pangkuannya.
Momen-momen itulah yang mengubah kegiatan bakti sosial menjadi cerita kemanusiaan.
Letda Imbi Fo menyebut SEJUK sebagai wujud syukur dan kepedulian. “Melalui hal kecil seperti nasi kotak dan kerja bakti, kami ingin menunjukkan bahwa TNI hadir bersama rakyat bukan hanya saat tugas, tapi juga saat berbagi,” ujarnya.
Kata-kata itu bukan hanya pidato; terlihat dalam cara personel berbaur, berbicara ringan dengan anak-anak, dan membantu membersihkan halaman.
Bagi warga Aminweri, program ini mempererat hubungan yang selama ini terjalin. Anak-anak berlari-lari membawa kotak nasi, sementara para tetua berkumpul membahas hal sehari-hari.
Seorang remaja yang ikut menata pembagian mengatakan, “Kegiatan ini membuat kami merasa aman dan dihargai. Mereka ikut membersihkan masjid, jadi terasa seperti keluarga besar.”
Kepedulian itu juga berdampak pada rasa saling percaya. Hadirnya TNI dalam kegiatan sosial seperti SEJUK membantu meredam jarak antara aparat dan masyarakat mengubah citra kaku menjadi figur yang berbagi waktu dan tenaga.
Di Supiori, langkah kecil ini diharapkan menumbuhkan semangat gotong royong dan toleransi antarumat beragama.
Sebelum meninggalkan kampung, para prajurit duduk sebentar, menyeruput kopi panas yang disuguhkan oleh jamaah. Suasana santai itu menutup kegiatan hari itu dengan hangat, bukan perpisahan formal, melainkan janji berkelanjutan untuk terus hadir di tengah masyarakat.
Dengan senyum warga yang masih tersisa di bibir, Program SEJUK bukan sekadar program militer, melainkan cerita kemanusiaan yang mengingatkan bahwa perhatian kecil dapat memperkuat tali persaudaraan dan membangun harmoni di tanah Papua. (*)
