MAKASSAR– Harley-Davidson Club Indonesia (HDCI) langsung gerak cepat merespons tragedi kecelakaan maut di Kabupaten Toraja Utara (Torut), Sulawesi Selatan, yang merenggut nyawa anak berusia 10 tahun.
Lewat siaran persnya, (5/5),organisasi ini bukan hanya meluruskan hoaks yang beredar, tapi juga mengukuhkan posisinya sebagai komunitas berkendara yang bertanggung jawab di tengah maraknya stigma negatif terhadap klub motor besar.
Penelusuran internal HDCI, termasuk verifikasi langsung Ketua Umum Pusat terhadap database keanggotaan, memastikan pelaku kecelakaan sama sekali tak terdaftar, baik di level nasional maupun cabang daerah.
Insiden semacam ini sering memicu generalisasi berbahaya, seolah klub seperti HDCI identik dengan kelakuan sembrono. Padahal, data internal mereka justru jadi bukti transparansi, mencegah kerusakan reputasi yang bisa melemahkan upaya keselamatan lalu lintas secara luas.
“Pelaku bukan member kami, apalagi rombongan resmi. Kami luruskan ini agar publik dapat fakta akurat, bukan spekulasi,” ucap Sekretaris HDCI Makassar, H. Andi Asruddin, SE., MM.
Respons cepat seperti ini selaras dengan Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU No. 22/2009), di mana organisasi wajib klarifikasi untuk hindari fitnah yang bisa picu konflik sosial terutama di wilayah seperti Toraja Utara yang rawan isu viral media sosial.
Ia menegaskan, jika pelaku memang anggota, sanksi organisasi plus tuntutan hukum pasti diterapkan.
“Kami tak tolerir pelanggaran etika berkendara yang rugikan masyarakat,” ujar Andi Asruddin.
Hal ini menarik karena mencerminkan paradigma baru komunitas motor: dari sekadar hobi, jadi agen perubahan keselamatan.
Bayangkan, klub yang sering dikaitkan gaya hidup mewah kini proaktif kampanyekan safety riding dan etika santun kontras tajam dengan narasi lama soal “bikers liar”.
“Kehilangan anak adalah duka berat. Kami doakan keluarga korban diberi kekuatan,” tambahnya
Mereka juga dukung polisi usut tuntas kasus ini sesuai hukum, termasuk Pasal 310 KUHP atau UU LLAJ tentang kelalaian fatal.
Secara analitis, kasus ini ungkap celah sistemik di penegakan lalu lintas Sulawesi Selatan, kurangnya verifikasi identitas cepat di lapangan sering picu mis informasi, sementara komunitas seperti HDCI bisa jadi mitra strategis polisi.
Respons mereka tak hanya damage control, tapi blueprint transparansi gun amembangun kepercayaan publik di era digital di mana hoaks menyebar lebih cepat dari sepeda motor.
HDCI kini perkuat kampanye safety riding, dan Tragedi ini jadi titik balik, bukan bahan gosip. (*)
