JAKARTA– Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan, terus mempercepat pembangunan sistem transportasi massal berbasis jalan yang inklusif dan terintegrasi di sejumlah kota di Indonesia melalui program Pengembangan Sistem Angkutan Umum Massal (MASTRAN Project). Program yang pendanaannya didukung Bank Dunia dan Agence Française de Développement (AFD) ini, penting dalam mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dari menggunakan transportasi pribadi ke transportasi umum di kota metropolitan, seperti di Medan dan Bandung yang menjadi lokasi pengembangan pilot project BRT.

Sebagai bagian dari upaya evaluasi progres proyek, Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Aan Suhanan, secara resmi membuka kegiatan Mid Term Review (MTR) Mission, MASTRAN Project di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (16/6). Kegiatan ini menjadi momentum untuk meninjau capaian serta memperkuat kerja sama antar stakeholders dalam memastikan proyek berjalan efektif.

“MTR bertujuan untuk menilai sejauh mana pelaksanaan kegiatan telah berjalan sesuai dengan perencanaan. Melalui proses ini kita dapat melihat kemajuan yang telah dicapai, mengidentifikasi berbagai tantangan atau hambatan yang muncul, serta merumuskan langkah-langkah perbaikan dan penyesuaian yang dibutuhkan agar pelaksanaan proyek ini tetap berada dalam jalur yang tepat,” ucap Aan.

Aan menjelaskan program Pengembangan Sistem Angkutan Umum Massal ini sudah dimulai pada 2022 dan sempat mengalami keterlambatan selama tiga tahun akibat sejumlah kendala di awal. Meski begitu, melalui kegiatan MTR ini, pemerintah optimistis bisa mengatasi hambatan tersebut dengan kolaborasi semua stakeholders.

“Melalui kegiatan ini mudah-mudahan bisa mendapatkan solusi dan hambatan-hambatannya bisa diatasi sehingga proyek ini bisa selesai tepat waktu. Ditargetkan pada 2027 proyek ini sudah selesai,” jelas Aan.

Berita Terkait