LANTASINFO– Pelatihan Camera Freestyle Scanner FASI T.A 2026 yang digelar Korlantas Polri di Jakarta merupakan langkah nyata modernisasi penanganan kecelakaan lalu lintas di era data.
Di tengah meningkatnya mobilitas, pendekatan ilmiah untuk olah tempat kejadian perkara (TKP) bukan lagi pilihan tapi kebutuhan.
Saat membuka pelatikan, Kasubditlaka Ditgakkum Korlantas Kombes Pol. Mariochristy P.S Siregar menegaskan bahwa pengadaan perangkat disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan tingkat kecelakaan di masing-masing daerah, menandakan upaya yang lebih terukur ketimbang pemberian alat seragam tanpa analisis.
Namun alat terbaik pun tak berguna tanpa operator yang terampil, sehingga pelatihan tiga hari ini penting untuk membekali personel dengan teknik pengambilan gambar, pengolahan data, dan proses scanning yang benar.
Mariochristy menekankan bahwa saat ada kecelakaan, personel wajib turun ke TKP dan melakukan olah TKP secara maksimal pesan yang menegaskan bahwa teknologi harus berjalan berdampingan dengan kehadiran profesional di lapangan.
Pelatihan ini memperkecil risiko kesalahan dokumentasi yang selama ini menghambat proses penyidikan.
Kombes Mariochristy mengingatkan pentingnya merawat perangkat, terutama baterai drone dan scanner, agar alat selalu siap dipakai.
Pernyataan itu menegaskan bahwa modernisasi memerlukan anggaran dan disiplin operasional, tanpa perawatan, investasi cepat habis dan tujuan peningkatan kapasitas tak tercapai.
Perhatian pada aspek teknis sederhana ini menunjukkan pemahaman praktis terhadap tantangan di lapangan.
Korlantas juga berkomitmen melakukan pengawasan dan pendampingan terhadap penggunaan alat di wilayah, serta menjamin tim Traffic Accident Analysis (TAA) turun langsung saat kecelakaan besar atau menonjol.
Kehadiran TAA memperlihatkan bahwa teknologi bukan pengganti, melainkan pelengkap investigasi yang dipandu metode ilmiah dan keahlian analisis. Kombes Mariochristy menegaskan dukungan pimpinan Polri dan Kakorlantas sebagai penguat implementasi, bukan sekadar seremonial.
Secara strategis, pelatihan dan alat baru ini berpotensi memperbaiki validitas data kecelakaan dan mempercepat penanganan TKP, yang pada gilirannya mendukung pengembangan IRSMS sebagai intelligence keselamatan lalu lintas nasional.
Jika data yang dihasilkan konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai standar yang diajarkan dalam pelatihan pembuat kebijakan bisa menyusun intervensi yang lebih tepat sasaran.
Pernyataan Mariochristy tentang kecocokan alat dengan karakteristik daerah menambah peluang agar data lokal benar-benar mencerminkan kondisi riil.
Tetap saja, keberhasilan inisiatif ini bergantung pada komitmen jangka panjang: pelatihan berkala untuk menjaga skill, anggaran perawatan, dan pengawasan operasional yang konsisten. Seperti diingatkan oleh Kombes Mariochristy, “Ilmu ini kalau tidak dipraktikkan dan di-refresh lama-lama hilang.”
Jika semua elemen ini berjalan beriringan alat, manusia, dan manajemen modernisasi penanganan TKP bisa bukan hanya mempercepat proses hukum, tetapi juga menyelamatkan nyawa melalui kebijakan berbasis bukti. (*)
