Transportasi Sulsel Kian Aman, Dirlantas Polda Sulsel Tekankan Penanganan Golden Period

MAKASSAR – Pendekatan keselamatan transportasi di Sulawesi Selatan bergeser dari responsif menjadi preventif berbasis data untuk menekan kecelakaan dan fatalitas.

Diskusi Keselamatan Transportasi Penta Helix di Kantor Wilayah Jasa Raharja Sulawesi Selatan, Senin (13/04/2026), mempertemukan narasumber seperti Dirlantas Polda Sulsel Kombes Pol Dr. Pria Budi SIK, MH, perwakilan Dinas Pendidikan, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, BPTD Kelas II Prov. Sulsel, BBPJN Sulsel, Dinas Bina Marga Provinsi Sulsel, DPD Organda Sulsel, PT Makassar Metro Network, RSUP Wahidin Sudirohusodo, RSUP Makassar, komunitas ojek online, serta akademisi dari Universitas Hasanuddin, Universitas Bosowa, Universitas Fajar, dan Universitas Handayani.

Dirlantas Polda Sulsel Kombes Pol Dr. Pria Budi SIK, MH menyoroti pencapaian signifikan meski kecelakaan meningkat 8% menjadi lebih dari 2.000 kasus pada Triwulan I 2026.

“Angka fatalitas korban meninggal dunia berhasil ditekan 24%, dari 234 orang (Triwulan I 2025) menjadi 179 orang,’ papar Pria Budi.

Diketahui, sebanyak 74% kecelakaan merupakan tunggal, dengan 78% melibatkan sepeda motor, paling sering pada pukul 15.00–18.00 WITA di kondisi cuaca cerah dan jalan baik.

Titik rawan tertinggi dipetakan di Makassar, Maros, Barru, dan Pangkep, didukung 89 unit ETLE (14 statis, 74 handheld).

“Banyak nyawa yang hilang bukan karena kecelakaan itu sendiri, tetapi karena terlambatnya penanganan awal. Keselamatan tidak hanya berhenti pada pencegahan, tetapi juga pada kualitas penanganan pada saat dan sesaat setelah kecelakaan terjadi. Semakin cepat penanganan dalam golden period, semakin besar peluang korban untuk bertahan hidup,” tegas Dirlantas Polda Sulsel.

Sementara, Direktur Utama Jasa Raharja Muhammad Awaluddin melengkapi dengan data santunan naik 11,14% dan tren nasional IRSMS Korlantas Polri, 151.000 kejadian dengan 217.000 korban per tahun.

Jasa Raharja memperkuat pencegahan via pemetaan blackspot, edukasi tersegmentasi, dan respons pertama.

“Kecelakaan bukan persoalan kehilangan nyawa semata. Sebagian besar yang mengalami kecelakaan adalah usia produktif dan kepala keluarga, sehingga ada perubahan tatanan sosial-ekonomi… Kami ingin mendorong pergeseran dari responsif menjadi preventif melalui kerja sistem yang terintegrasi,” ujarnya.

Forum hasilkan kesepakatan: penguatan edukasi interaktif di titik rawan, perluasan E-PELANTAS ke seluruh kabupaten/kota, integrasi SIM-RS dengan JR Care untuk Guarantee Letter (GL) korban, serta pelatihan PPGD bagi komunitas pengemudi sebagai first responder.

Demi kiqn, Dinas Bina Marga rencanakan pemeliharaan 1.000 km jalan (2025–2027), Dinas Perhubungan tambah koridor angkutan umum menjadi tiga. Jasa Raharja nilai forum ini krusial untuk peta jalan keselamatan berbasis data lokal melalui sinergi Penta Helix. (*)

Berita Terkait