JAKARTA– Diskusi publik yang digelar baru-baru ini menyisakan pesan mendalam yang seharusnya menggugah kesadaran semua pihak.

“Kita boleh hidup di jalan yang lurus, tapi tidak boleh meninggal di jalan yang lurus.”

Ungkapan tersebut bukan sekadar kiasan, melainkan sindiran keras terhadap kondisi jalanan kita yang ironis di saat kita berupaya hidup tertib, justru masih banyak yang kehilangan nyawa di jalan akibat kelalaian sistemik.

Pernyataan itu muncul dalam sebuah forum strategis yang dihadiri oleh tokoh-tokoh penting lintas sektor.

Hadir dalam diskusi tersebut Wakil Menteri Perhubungan, Suntana, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Sukanda, serta Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Ernita Titis Dewi. Turut pula hadir para Direktur di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dan perwakilan dari Asosiasi Pengemudi Angkutan Barang.

Kehadiran berbagai elemen tersebut menandakan bahwa isu keselamatan dan penataan transportasi bukan lagi sebatas tanggung jawab teknis sektor perhubungan semata.

Ini adalah persoalan multidimensi yang memerlukan keterlibatan lintas kementerian dan dukungan penuh dari para pelaku lapangan, termasuk pengemudi angkutan barang yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi logistik nasional.

Jika pemerintah benar-benar serius, maka penanganan persoalan ini harus jauh dari pendekatan seremonial atau sekadar rutinitas diskusi.

Perlu langkah konkret dan berani untuk menertibkan segala bentuk penyimpangan, termasuk pelanggaran over dimensi dan over load yang selama ini menjadi biang kerok banyak kecelakaan fatal.

Jangan sampai pesan simbolik seperti “tidak boleh mati di jalan yang lurus” hanya berhenti sebagai kutipan viral.

Ia harus diterjemahkan menjadi kebijakan efektif dan pengawasan ketat di lapangan agar jalan yang lurus benar-benar menjadi jalur kehidupan, bukan lorong kematian. (*)

Berita Terkait